"Membagi Gagasan, Maju Bersama"

Sunday, January 23, 2011

BUAH-BUAHAN YANG COCOK UNTUK MENINGKATKAN KESUBURAN PRIA

Pendahuluan
Kerusakan sel sperma sebagian besar dipicu oleh Reactive Oxygen Species (ROS) yang diproduksi secara alami oleh tubuh manusia. Pada tingkatan tertentu, terutama pada kadar yang cukup tinggi, ROS akan mengurangi produksi dan kemampuan sperma untuk membuahi sel telur.
Banyak pasangan suami istri yang melakukan terapi suntik untuk meningkatkan produksi sperma, namun karena terapi tersebut berbasis kimiawi maka pada tingkatan tertentu menjadi berbahaya bagi kaum lelaki.
Marian Showel, dari University of Auckland, melakukan penelitian mengenai hubungan antioksidan dan kesuburan pria dengan melibatkan 2.800 pasangan tidak subur, dalam hal ini karena si pria terindikasi memiliki memiliki kualitas sperma yang buruk sehingga harus mengikuti terapi kawin suntik agar pasangan tersebut memperoleh anak.
Dalam penelitian tersebut, Showel memberikan pengarahan kepada kepada seluruh partisipan mengenai antioksidan dan menyarankan untuk mengkonsumsinya secara rutin.
Hasilnya, pasangan menjadi lebih mudah mendapatkan keturunan tanpa melalui terapi kawin suntik.
Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa dalam upaya mendapatkan keturunan, baik secara alami maupun  melalui terapi, para pria sangat dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi suplemen antioksidan agar pasangannya cepat mengalami kehamilan.

Permasalahan
Terapi antioksidan kimiawi tidak aman dalam jangka panjang sehingga perlu dicari metode terapi antioksidan yang aman untuk jangka panjang.

Solusi
Terapi nabati, yaitu mengkonsumi buah dan sayur, tergolong sebagai terapi organik, sehingga aman untuk jangka panjang. Anjuran mengkonsumsi bauh dan sayuran bagi para pria penderita kualitas sperma buruk merupakan alternatif yang baik. Namun, untuk tujuan praktis, konsumsi buah-buahan perlu dikaji sebagai alternatif utama karena tidak seperti sayuran yang harus dimasak terlebih dahulu, buah-buahan dapat dikonsumsi langsung tanpa dibatasi dengan ruang dan waktu.

Metodologi Penelitian
Ruang lingkup:
Konteks buah-buahan masih sangat luas, sehingga perlu dilakukan pengelompokkan jenis-jenis buah berdasarkan kandungan antioksidannya. Penelitian ini sangat sederhana namun hasilnya akan sangat bermanfaat.
Metode:
Pengumpulan data sekunder, dalam hal ini mencari berbagai sumber pustaka, termasuk pustaka online, mengenai berbagai senyawa yang terkandung dalam berbagai jenis buah.
Telaah pustaka ini sangat dibutuhkan karena untuk tujuan terapi, suatu jenis buah harus dikonsumsi secara rutin.
Output:
  • Hasil penelitian ini akan berupa daftar jenis-jenis buah dan kandungan antioksidannya yang dilengkapi dengan telaah ilmiahnya.
  • Klasifikasi jenis buah, yang karena kadar antioksidan yang dikandungnya, menjadi anjuran utama untuk dikonsumsi oleh para pria berkualitas sperma buruk.

*********************************************************************************************************
Dengan mengklik ini: VIVA ACADEMICA !
Saudara telah memberikan dukungan untuk kami dapat terus mengembangkan Blog ini.
Situs yang saudara klik akan merealisasikan dukungan tersebut. Terima kasih dan Sukses.
*********************************************************************************************************

  

Thursday, January 6, 2011

STUDI PENGARUH SALINITAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN FISIOLOGI KANGKUNG (Ipomoea aquatica Forsk)

Pendahuluan
Kangkung, bahasa inggrisnya Water Spinach (Ipomoea aquatica Forsk) merupakan sayuran yang popular di tengah masyarakat, terutama karena harganya yang sangat terjangkau, bahkan oleh keluarga miskin. Kangkung ternyata sering diberikan sebagai makanan wajib bagi pasien-pasien yang menderita kurang darah karena tinginya kadar besi dalam jaringannya.
Tanaman kangkung biasanya ditanam di dataran rendah, umumnya di pesisir pantai, dimana air kolam yang digunakan sebagai tempat tumbuhnya berasal dari dataran tinggi. Air kolam biasanya telah tergarami (salted) oleh residu-residu pertanian seperti pupuk, pestisida-insektisida dan material budidaya pertanian lainnya. Hal ini mengapa sistem pertanian kangkung sebetulnya tidak dapat dipisahkan dari permasalahan salinitas.
Terdapat hasil penelitian
pada tanaman kerabat kangkung, ubi jalar, bahwa konsentrasi garam NaCl yang rendah, yaitu pada pada rentang 15-20 mM, menyebabkan peningkatan bobot kering dan kandungan klorofil (Umboh, et al, 1997).

Secara fisik, tanaman yang diberi perlakuan garam NaCl konsentrasi rendah memiliki tajuk yang pertumbuhan dan penampilannya baik, hal ini memunculkan ide menarik untuk melakukan percobaan penerapan garam NaCl konsentrasi rendah pada tanaman-tanaman yang bagian ekonomisnya adalah bagian tajuk, seperti halnya sayur-sayuran, dalam hal ini sayur kangkung.

Permasalahan

  • Hingga saat ini, masih sangat jarang informasi ilmiah mengenai pengaruh salinitas terhadap kangkung. 
  • Bagaimana pengaruh garam NaCl konsentrasi rendah terhadap kandungan besi dan mikro nutrient lainnya? Hal ini manjadi menarik untuk diteliti.
Tujuan Penelitian
  • Mempelajari respon pertumbuhan dan fotosintesis kangkung terhadap salinitas konsentrasi rendah, dalam hal ini NaCl.
  • Mempelajari pengaruh garam konsentrasi rendah terhadap kandungan mineral kangkung.
Metode
  • Untuk mempertahankan akurasi konsentrasi perlakuan garam NaCl, tempat tumbuh sebaiknya dalam bentuk tangki hidroponik. Anjuran ukuran tangki: panjang x lebar x tinggi = 40 x 30 x 20 cm.
  • Setiap tangki diisi 30 liter air. Konsentrasi akhir dari nutrient di dalam tangki, dalam satuan mg/l, adalah: N 240, P 40, K 360, Ca 200, Mg 65, Fe 4, Mn 0.7, Zn 0.1, Cu 0.04, Cl 10, B 0.6, and Mo 0.02, sebagaimana digunakan oleh Sun and Wu (1998). 
  • pH larutan dipertahankan pada 6.5 ± 0.1. 
  • Polystyrene foam (polyloam) berlbang digunakan sebagai penopang tanaman di atas kultur larutan. 
  • Kultur larutan diaerasi secara kontinyu dengan blower dan aerator.
Variabel Data
Data yang diukur untuk analisis statistic:
  • Luas daun: diukur langsung dengan Leaf Area Meter. 
  • Bobot kering tanaman: penimbangan setelah pengeringan selama 48 jam pada shu 80 oC. 
  • Kandungan mineral: Fe, Mg, K, NA, (dengan metode AAS), Cl (dengan metode titrasi).
  • Kandungan klorofil: ditentukan dengan metode spektrofotometer dalam aseton 80% yang digunakan oleh Arnon (1959).
Analisis data
Uji F dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT).



Literatur

Arnon, D.I. 1959. Copper enzymes in isolated chloroplast, polyphenol oxidase in Beta vulgaris. J. of Plant Physiol., 24:1-15. 

Sun, E.J. and F.Y. Wu. 1998. Along-vein necrosis as indicator symptom on water spinach caused by nickel in water culture. Bot. Bull. Acad. Sin. 39:255-259.

Umboh, A.H., S. Yahya, D. Sopandie, and A. Hartana. 1997. Growth physiological responses of sweet potato (Ipomoea batatas (L.) Lam.) to salinity: 2. Distribution of Leaf Chlorophyll and Plant Dry Weight. Eugenia, 3(4):222-232.


**********************************************************************************************
Untuk pengembangan, pemeliharaan dan keberlanjutan BLOG ini, kami mengharapkan bantuan saudara dengan mengklik ini:  VIVA ACADEMICA !
Dengan memberikan Klik, saudara telah memberikan sumbangan untuk kami dapat terus mengembangkan Blog ini. Sumbangan saudara akan dibayarkan oleh situs yang telah saudara Klik tersebut. Terima kasih.
********************************************************************************************* 
 

Sunday, January 2, 2011

PENGARUH PENERAPAN KEBIJAKAN ALOKASI DANA DESA (ADD) TERHADAP PENINGKATAN PEMBANGUNAN DAN KESEJAHTERAAN DESA

Pendahuluan
Indonesia masih identik dengan desa atau yang disebut dengan nama lain. Setidaknya hal tersebut tercermin dari kenyataan bahwa masih sekitar 70% warga Indonesia hidup dan mencari nafkahnya di desa. Bagaimanapun potretnya saat ini, desa merupakan bagian wilayah terkecil dari negara Indonesia yang mutlak harus diayomi oleh pemerintah Negara Republik Indonesia.
Desa, atau yang disebut dengan nama lain berdasarkan UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yuridiksi, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan/atau dibentuk dalam sistem Pemerintahan Nasional dan berada di kabupaten/kota, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai desa adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat.
Proses otonomisasi yang telah digalakkan sejak tahun 1999 hingga saat ini, yang menyangkut berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, seharusnya berujung dan berlabuh di desa-desa. Artinya, harus terlihat dengan jelas adanya peningkatan pembangunan dan kesejahteraan desa dan masyarakatnya secara signifikan.
Pada awal-awal pelaksanaan proses otonomi daerah, aspek kemandirian desa terkesan diabaikan, namun dengan makin seriusnya pemerintah pusat hingga kabupaten/kota melaksanakan proses otonomi daerah, kepentingan-kepentingan desa mulai diperhatikan bahkan diprioritaskan. Bukti bahwa pemerintah pusat mulai memberikan titik berat pada prioritas pemantapan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa tercermin dari semakin lengkapnya perangkat peraturan pelaksanaan, yaitu Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) maupun Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri), yang mengatur tentang desa. Baik PP, Permendagri dan Kepmendagri yang dimaksud merupakan peraturan pelaksanaan pengaturan mengenai desa yang diamanatkan oleh UU Nomor 32 tahun 2004.
Pembiayaan atau keuangan merupakan faktor vital dalam mendukung penyelenggaraan otonomi desa, sebagaimana juga pada pelaksanaan otonomi daerah. Untuk mengatur rumah tangganya sendiri, desa memerlukan dana/biaya yang memadai untuk melaksanakan semua kewenangan yang dimilikinya. Sejak tahun 1999, yaitu sejak penerapan UU Nomor 22 tahun 1999 yang dilanjutkan dengan UU nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pemerintah menerapkan kebijakan pemberian dana segar (grant) ke desa-desa melalui program kebijakan Alokasi Dana Desa (ADD).
Bila kita mengambil tahun 2001 sebagai tahun efektif pelaksanaan UU nomor 22 tahun 1999, berarti usia kebijakan ADD telah mencapai 10 tahun atau 1(satu) dasawarsa per tahun 2011. Berarti sudah sekitar 10 tahun desa diberikan kewenangan untuk mengatur pembangunan dan pemerintahannya sendiri dengan dukungan dana dari pemerintah pusat/kabupaten/kota.


Permasalahan
  • Mengapa desa-desa masih mengalami kendala dalam hal peningkatan pembangunan fisik dan non fisik?
  • Mengapa penyelenggaraan pemerintahan desa masih amburadul?
  • Mengapa kesejahteraan masyarakat desa masih terkendala?
Ketiga pertanyaan kunci tersebut menjadi masalah yang perlu dijelaskan dengan pendekatan penelitian ilmiah.


Metode Penelitian
Metode pendekatan yang dapat diterapkan: METODE KOMPARATIF
Melakukan studi awal untuk mengelompokkan desa-desa ke dalam tiga kategori: (i) Desa Maju, (ii) Sedang berkembang, dan (iii) Tertinggal.
Kemudian dipilih dari tiap kategori desa tersebut masing-masing beberapa desa dengan memperhatikan keterwakilan wilayah di dalam kabupaten/kota.
Selanjutnya dilakukan proses penelitian ilmiah dan analisis statistik yang sesuai dengan metode komparatif.


**********************************************************************************************
Untuk pengembangan, pemeliharaan dan keberlanjutan BLOG ini, kami mengharapkan bantuan saudara dengan mengklik ini: VIVA ACADEMICA !
Dengan memberikan Klik, saudara telah memberikan sumbangan untuk kami dapat terus mengembangkan Blog ini. Sumbangan saudara akan oleh situs yang telah saudara Klik tersebut. Terima kasih.
********************************************************************************************* 
 

Tuesday, December 28, 2010

Jangan Takut Menulis, Ada Pembaca yang akan Mengoreksinya

Banyak orang takut untuk menuliskan ide-ide mereka karena berpikir bahwa mereka akan membuat banyak kesalahan, padahal fakta membuktikan banyak tulisan yang brilian berawal dari banyak kesalahan penulisnya. Banyak penulis ternama terbentuk karena banyaknya koreksi yang datang dari para pembacanya. Jadi bila kita ingin menuliskan ide-ide kita, tuliskanlah itu, jangan takut salah, ada pembaca yang akan mengoreksi semua kesalahan yang kita lakukan dalam menulis. Do not stop writing !